CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Minggu, 27 Juli 2008

28 Juli 08

kemanakah perginya kasih sayang yang dulu terpampang dengan gamblang? sudahkan ia lekang dan menghilang saat obsesi dan dendam membayang?

ternodai dan bertransformasi menjadi dengki dan obsesi hanya karena rasa frustasi yang menari-nari dalam diri telah menjadi-jadi.

seakan pembalasan yang meminta korban dan persembahan jiwa seorang teman akan mendatangkan kepuasan, bukan akan memakan korban perasaan dan mendatangkan kebencian dari dan terhadap sang tuan, haruskah sang tuan memaksakan? mencari pelarian dan dukungan? apa ia hanya perlu mengikhlaskan dan melepaskan semua kenangan yang akan terabaikan bersamaan dengan bualan harapan.

Semua solusi tidaklah tersembunyi ataupun terhalangi, namun menunggu untuk dijalani dengan sepenuh hati demi kebaikan diri dan ketulusan hati layaknya persahabatan yang murni..

Kamis, 24 Juli 2008

yak! akhirnya saya mengupdate blog ini juga,.. krn temen gw (Uti) bilang "kaga di update2 dah.." yaudalah yaa update deh, lagian juga uda ga ada kerjaan parah ni jam setengah 4 pagi di warnet ama si Uti pula! mau main game, malay sendiri... mau pulang kekosan, kosan uti uda dikunci.. ckckck..
Sekian update dari saya.. hahahahaha!!! ga ada ide nih mau update blog.. hhe..

Selasa, 10 Juni 2008

Sedikit tentang Kebesaran Hati

Tempo hari gw berbincang sama salah satu temen SMA gw, saat lagi berbincang-bincang tiba-tiba aja gw inget masa-masa dulu saat dia masi bersama mantannya. Betapa mereka berdua begitu terlihat amat berbahagia dan sangat membuat iri.
Lalu tiba-tiba entah kenapa pertanyaan yang keluar dari mulut gw adalah, "B**, lo pasti uda belajar begitu banyak tentang kebesaran hati?"
Sambil senyum (baca: nyengir-nyengir najiss) dia ngomonglah blablablablalba...
Kenapa gw nanya tentang kebesaran hati? Itu semata-mata karena begitu salutnya gw terhadap sikap dia terhadap sang mantan. Sikapnya kurang lebih sama seperti halnya dia saat masih menjadi pacarnya. Intensitas kebaikan (baca: sayang) yang dia berikan terkesan tak berkurang sedikitpun, walaupun kapasitas untuk memancarkannya telah di kurangi oleh sang mantan.
Kalo dipikir-pikir kenapa dia masih kayak gitu? Kenapa dia gak bisa menyudahi saja agar dapat terus maju kedepan? Satu hal yang bisa gw tangkep, itu karena kebesaran hati dia.
Dari sikap dia tertangkap sebuah kesan bahwa semua kebaikan dan rasa sayang dia selama ini dia berikan terhadap pacarnya bukan karena semata-mata karena dia itu adalah pacarnya. Tapi karena dia memang benar-benar sayang. Sehingga saat sang pacar bukanlah lagi miliknya itu bukanlah merupakan sebuah alasan untuk berhenti menyayanginya.
Mungkin baginya tak masalah bersama siapa sang pacar akan berbahagia. Baginya masih memiliki kesempatan untuk melakukan suatu kebaikan terhadap sang pacar adalah sebuah anugerah. Baginya yang terpenting adalah apa yang bisa ia lakukan, bukan apa yang bisa ia dapatkan.
Kebesaran hatinya membuat dia tak pernah sedikitpun merasa tersisihkan, bahkan tidak pernah ia mengumpat karena sang pacar sudah bersama kekasih barunya. Kebesaran hatinya membuat seakan-akan masalah yang dia hadapi sama sekali tidak berat, sama sekali tidak menyakitkan. Dan kebesaran hatinya pulalah yang membuatnya terkesan dapat terus bergerak maju tanpa meninggalkan, dapat memaafkan tanpa melupakan, dan dapat terus memberikan tanpa berharap akan mendapatkan.

Rabu, 28 Mei 2008

I Wish..

seringkali kita menginginkan untuk menjadi orang lain dan berkata "I wish I was someone else..",
seringkali pula kita berharap untuk mengetahui jawaban-jawaban atas semua pertanyaan
berharap kita adalah orang yang cukup bijaksana dalam memutuskan sesuatu
berharap kita adalah orang yang sangat peduli sehingga kita dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain..

namun baru kusadari bahwa diri ini memiliki harapan lain.. harapan yang datang begitu saja, terasa begitu tulus dan tidak terlampau muluk..

harapan-harapan seperti..
andaikan aku adalah orang yang tidak tahu sama sekali akan apa yang benar sehingga akan menjadi begitu wajar dan ringan untuk berbuat salah...
andaikan aku adalah orang yang begitu cuek sehingga aku bisa berbuat apapun tanpa rasa bersalah..
andaikan aku benar-benar tidak perduli dan tidak dapat merasakan atau bahkan tidak mengerti apa yang orang lain rasakan..

harapan-harapan itu seakan memberikan solusi instan yang amat menggoda, seakan memberikan jalan pintas yang amat mudah untuk sebuah pelarian,..

ya, akupun tahu itu semua salah dan sangat tidak bertanggung jawab, tapi aku hanya berharap aku tidak pernah tau..

disaat keadaan memaksaku untuk memberontak dari sebuah belenggu, aku sangat berharap belenggu itu melepaskanku sebelum aku memaksanya..

Rabu, 21 Mei 2008

Perayaan 100th Kebangkitan Bangsa: Bagaimana bisa waktu menjadi lebih mahal dari jiwa & raga..


Selasa, 20 May 2008 kemarin saya menghadiri perayaan 100th Kebangkitan Bangsa di Stadion Utama Senayan. Saya hadir disitu karena mahasiswa Universitas Indonesia entah kenapa diberi sebuah kehormatan untuk dapat menghadiri acara tersebut. Acara tersebut diselenggarakan oleh pemerintah untuk memperingati 100 tahun kebangkitan bangsa.
Menurut saya mereka yang memiliki kesempatan untuk dapat hadir ataupun memeriahkan acara itu seharusnya bangga. Akan tetapi ada sedikit kekecewaan dihati saya karena ternyata tidak sedikit juga orang-orang yang merasa waktu mereka terlalu berharga untuk sekedar memperingati hari dimana bangsa ini mulai bangkit. Ada begitu banyak kemungkinan mengenai apa alasan mereka. Mungkin dalih yang mereka katakan adalah "ada begitu banyak cara memperingati 100 tahun Kebangkitan Bangsa dan menunjukkan nasionalisme". Ya benar sekali ada begitu banyak cara, akan tetapi apa yang kalian lakukan untuk mengkompensasi absennya kalian? apakah benar kalian melakukan peringatan dengan cara kalian sendiri? apakah kalian bahkan menggeningkan cipta sejenak? apakah kalian memanjatkan doa? Saya tidak ingin terlalu menghakimi disini karena saya tidak memiliki kapasitas untuk itu. Akan tetapi jangan sampai apa yang saya tuduhkan itu benar, bahwa kalian sudah menganggap waktu kalian lebih berharga dari apa yang para pahlawan kita korbankan, jangan sampai kalian menganggap waktu kalian terlalu berharga bahkan untuk menghargai jasa-jasa mereka. Buktikan bahwa tuduhan saya salah kawan-kawan!! Buktikan bahwa kita sebagai generasi penerus juga memiliki nasionalisme yang tidak kalah kuatnya dengan mereka yang hidup 1 abad lalu.
Di akhir kata, saya mengajak kita semua berdoa agar kita suatu saat kelak akan dapat memberikan sumbangsih yang berarti bagi bumi pertiwi tanah air kita Indonesia. Kerena kita inilah yang kelak akan menjadi penentu masa depan bangsa. Semoga Indonesia akan selalu dikarunia oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga mampu bangkit dari keterpurukan dan sangsaka merah putih pun dapat berkibar dengan gagahnya di kancah Internasional. Amien.

Rabu, 30 April 2008

kalah dari tim lawan mungkin menyakitkan.. tetapi lebih menyakitkan kalah dari rekan sendiri.. dan yang paling menyakitkan kalah dari diri sendiri..
ahmad radinal

Senin, 14 April 2008

bagaimana mungkin kita akan menemukan sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang selalu kita anggap yang terbaik..
ahmad radinal